Karena itu, Teh Daun Bidara berpotensi menjadi salah satu pilihan minuman herbal untuk menemani aktivitas sehari-hari.
Selain itu, daun bidara juga telah banyak diteliti terkait potensi aktivitas antioksidan dan antimikrobanya. Meski begitu, hasil penelitian terhadap ekstrak tanaman tidak bisa begitu saja dianggap sama dengan efek minum teh daun bidara biasa.
Jadi, produk ini nantinya lebih tepat diperkenalkan sebagai minuman herbal, bukan sebagai obat atau minuman yang diklaim mampu menyembuhkan penyakit tertentu.
Justru di situlah tantangannya. Produk harus dibuat enak, praktis, bersih, dan nyaman diminum.
Satu Pohon Tidak Cukup
Menariknya, ide usaha ini tidak hanya berhenti pada pemanfaatan satu pohon bidara yang sudah ada.
Kalau nantinya produk berkembang, tentu kebutuhan bahan baku juga akan meningkat.
Karena itu, mulai muncul gagasan untuk memperbanyak tanaman bidara di kebun. Dari satu pohon indukan, nantinya bisa dikembangkan menjadi beberapa pohon baru.
Dengan begitu, bahan baku tidak hanya mengandalkan satu pohon.
Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin akan muncul sebuah kebun bidara milik Suara Salira yang memang dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan produksi.
Dengan cara seperti ini, bahan baku bisa lebih terkontrol. Selain itu, proses dari tanaman sampai menjadi produk juga bisa dilakukan secara bertahap dan lebih terencana.
Bukan Sekadar Menjual Daun
Yang menarik dari rencana Teh Daun Bidara Suara Salira adalah konsepnya tidak berhenti pada menjual daun kering.
Produk ini bisa dikembangkan menjadi sebuah brand.
Misalnya, Teh Daun Bidara menjadi produk pertama. Setelah itu, bisa saja muncul berbagai varian lain dengan perpaduan bahan herbal yang berbeda.
Ada bidara dengan serai, pandan, jahe, atau bahan alami lainnya.











