Begitu pula dalam tempat dan waktu. Dari masjid-masjid utama, Masjidil Haram menjadi yang paling istimewa. Dari hari-hari besar, Hari Arafah menjadi pilihan utama. Dari malam-malam mulia, Lailatul Qadar berada di puncak keutamaan. Dari bulan-bulan pilihan; Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Muharam, Sya’ban menjadi bulan yang dikhususkan untuk Rasulullah sebagai bulan shalawat.
Karena Rasulullah adalah nabi paling utama, maka bulan yang dikaitkan dengannya pun menjadi bulan yang sangat istimewa.
Penjelasan ini tercantum dalam kitab al-Ghun’yah karya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani. Kitab ini sering disandingkan dengan Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, karena keduanya membahas tema serupa: akidah, fikih, dan tasawuf.
Di kalangan pesantren, nama al-Ghazali hampir selalu identik dengan Ihya’, sementara al-Jailani lekat dengan al-Ghun’yah. Keduanya dikenal luas, al-Ghazali dengan keluasan ilmunya sebagai Qutbul Ulum, dan al-Jailani dengan kewaliannya sebagai Qutbul Ghouts.
Meski demikian, Sahabat perlu memahami bahwa keduanya menempuh madzhab yang berbeda. Al-Ghazali mengikuti Asy’ari dalam akidah dan Syafi’i dalam fikih, sedangkan al-Jailani cenderung pada atsari dalam akidah dan Hanbali dalam fikih. Perbedaan inilah yang membuat kitab al-Ghun’yah tidak selalu diajarkan di pesantren yang bermazhab Syafi’i-Asy’ari.
Sebagai penutup, mari kirimkan al-Fatihah untuk beliau berdua dan para ulama arif billah yang telah menerangi jalan keilmuan umat Islam.











