SUARA SALIRA | KOTA BANDUNG, JAWA BARAT – Ada yang menarik dari Saung Angklung Udjo, Bandung, pada Jumat, 25 September 2026. Angklung Toel menjadi sorotan dalam konser bertajuk Touch of Harmony: The Evolution of Angklung Toel.
Dalam liputan Suara Salira pada Jumat, 25 September 2026, konser ini digelar di Amphitheater atau Balai Mandapa Saung Angklung Udjo, Jalan Padasuka Nomor 118, Bandung.
Acara berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.30 WIB. Bukan cuma menampilkan pertunjukan angklung, kegiatan ini juga mempertemukan para pemain, pelatih, komunitas, hingga musisi dari kalangan penyandang disabilitas.
Ada lima kelompok angklung profesional yang ikut ambil bagian. Selain itu, sekitar 140 panduan angklung komunitas turut hadir.
Yang tak kalah menarik, para musisi angklung disabilitas datang dari lima sekolah luar biasa atau SLB. Mereka berasal dari Jakarta, Tangerang, Bandung, Kuningan, dan Ciamis.
Angklung Toel Punya Cerita Panjang
Kalau selama ini angklung dikenal dimainkan dengan cara digoyangkan, Angklung Toel menawarkan cara yang berbeda.
Instrumen ini dimainkan cukup dengan menyentuh atau “menoel” bilah angklung. Konsep tersebut membuat permainan angklung menjadi lebih praktis dan memungkinkan pemain tetap terlihat jelas oleh penonton.
Ide Angklung Toel dikembangkan Yayan Mulyana Udjo sejak 2008. Gagasan itu muncul dari pengalaman panjangnya berkecimpung dalam dunia angklung.
Salah satu persoalan yang ingin dijawab adalah bagaimana membuat angklung bisa memainkan lagu dengan tempo lebih cepat.
Selain itu, posisi angklung melodi yang sebelumnya dapat menutupi pemain juga menjadi perhatian. Karena itu, Yayan mengembangkan rangka angklung dengan posisi terbalik hingga 180 derajat.
Hasilnya, pemain bisa memainkan instrumen sambil berdiri. Wajah pemain pun tetap terlihat selama pertunjukan.
Sejak prototipe pertamanya selesai pada November 2008, Angklung Toel terus berkembang.
Kini, instrumen tersebut hadir dalam tiga jenis unit, yakni Klasik, Great, dan Konverter.

Bisa Dimainkan dengan Pemain Lebih Sedikit
Salah satu hal menarik dari Angklung Toel ada pada sistem permainannya.
Satu unit instrumen bisa mencakup sekitar dua setengah oktaf. Dengan sistem acak atau random system, tujuh pemain dapat membawakan aransemen yang biasanya membutuhkan sekitar 25 sampai 40 pemain.
Ada juga unit Konverter. Fungsinya memungkinkan sanggar maupun sekolah menggunakan angklung melodi yang sudah mereka punya dengan sistem permainan Angklung Toel.
Jadi, inovasi ini bukan cuma soal bentuk instrumennya. Cara bermain dan pengaturan pemainnya juga ikut berkembang.
Pernah Tampil di Panggung Internasional
Perjalanan Angklung Toel ternyata tidak berhenti di Saung Angklung Udjo.
Instrumen ini pernah tampil di Java Jazz bersama Dwiki Dharmawan dan World Peace Orchestra.
Angklung Toel juga menjadi bagian dari koleksi museum etnomusikologi di Kazakhstan, Afrika Selatan, hingga Amerika Serikat.
Di sisi lain, sejumlah musisi angklung seperti Manshur Pradipta dan Wildan Qodaris juga mulai mengeksplorasi Angklung Toel dalam karya mereka.
Untuk menjaga karya tersebut, Angklung Toel telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI.
Touch of Harmony Bukan Sekadar Konser
Konser Angklung Toel kali ini bukan dibuat hanya untuk menghadirkan pertunjukan musik.
Bagi Yayan Mulyana Udjo dan Saung Angklung Udjo, acara tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan Angklung Toel bersama para pemain, pelatih, serta komunitas yang selama ini ikut mengembangkannya.
Pilihan musik yang dibawakan pun cukup beragam. Ada lagu daerah hingga aransemen kontemporer.
Dengan begitu, pertunjukan bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai usia dan latar belakang.
Yayan Mulyana Udjo mengatakan:
“Konser ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa, namun merupakan diorama dari karya panjang yang ingin saya bagikan kepada seluruh masyarakat, bagaimana angklung yang saya kenal sejak kecil terus tumbuh dan menemukan bentuk-bentuk barunya”

Angklung Toel Juga untuk Penyandang Disabilitas
Bagian menarik lainnya dari konser ini adalah peluncuran Angklung Toel yang dirancang khusus bagi penyandang disabilitas.
Kehadiran para musisi dari lima SLB menjadi bagian penting dalam acara tersebut.
Melalui pengembangan ini, Angklung Toel diharapkan bisa semakin terbuka untuk siapa saja. Musik tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang untuk berekspresi dan berkarya.
Harapannya, semakin banyak orang bisa merasakan pengalaman bermain angklung tanpa terbatas oleh kondisi fisik.
Sekilas tentang Saung Angklung Udjo
Saung Angklung Udjo atau SAU merupakan salah satu tempat yang dikenal luas sebagai ruang pertunjukan dan pengembangan seni Sunda di Bandung.
Tempat ini didirikan oleh Udjo Ngalagena pada 1966.
Selain pertunjukan, Saung Angklung Udjo juga menjadi tempat pendidikan dan pengembangan angklung serta berbagai kesenian Sunda.
Sementara itu, Angklung Toel terus menjadi salah satu bentuk inovasi yang menunjukkan bahwa alat musik tradisional juga bisa berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Konser Touch of Harmony: The Evolution of Angklung Toel pun menjadi salah satu ruang untuk memperlihatkan perjalanan tersebut kepada masyarakat.
Reporter: Kuswandi
Editor: P. Pirmansyah

