SUARA SALIRA | RELIGI & RENUNGAN – Bulan Sya’ban selalu punya tempat istimewa di hati umat Islam. Bulan ini bukan sekadar pengantar Ramadhan, tapi juga menyimpan makna mendalam yang penuh filosofi dan keberkahan. Dalam liputan yang ditulis pada 31 Januari 2026, Suara Salira mengajak Sahabat menyelami makna Sya’ban dengan sudut pandang yang ringan namun sarat makna.
Secara bahasa, kata Sya’ban tersusun dari lima huruf Arab, dan setiap hurufnya menyimpan filosofi luhur yang menggambarkan karakter bulan ini.
- الشين من الشرف
- العين من العلو
- الباء من البر
- الألف من الألفة
- النون من النور
Kelima huruf tersebut menggambarkan kemuliaan, keluhuran, kebaikan, keharmonisan, hingga cahaya. Karena itulah, Sya’ban sering disebut sebagai bulan terbukanya pintu-pintu kebaikan. Amal terasa lebih ringan dilakukan, keberkahan banyak diturunkan, kesalahan mulai ditinggalkan, dan dosa dihapus lewat taubat sebagai persiapan menyambut Ramadhan.
Di bulan ini pula, umat Muhammad mulai memperbanyak shalawat kepada Kanjeng Nabi shollallohu alaihi wasallam. Bahkan, karena ayat tentang shalawat diturunkan pada bulan ini, Sya’ban dikenal sebagai bulan shalawat.
Dalam salah satu ayat disebutkan:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ
Sebagian ulama menafsirkan bahwa dari banyak ciptaan-Nya, Allah memilih empat, lalu dari empat itu dipilih satu yang paling istimewa.
Pemilihan itu tampak dalam berbagai aspek. Dari malaikat terpilih Jibril, Mika’il, Isrofil, dan Izro’il, lalu yang paling istimewa adalah Jibril. Dari para nabi terpilih Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, dan yang paling utama adalah Muhammad. Dari sahabat utama Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, yang diistimewakan adalah Abu Bakar.
Begitu pula dalam tempat dan waktu. Dari masjid-masjid utama, Masjidil Haram menjadi yang paling istimewa. Dari hari-hari besar, Hari Arafah menjadi pilihan utama. Dari malam-malam mulia, Lailatul Qadar berada di puncak keutamaan. Dari bulan-bulan pilihan; Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Muharam, Sya’ban menjadi bulan yang dikhususkan untuk Rasulullah sebagai bulan shalawat.
Karena Rasulullah adalah nabi paling utama, maka bulan yang dikaitkan dengannya pun menjadi bulan yang sangat istimewa.
Penjelasan ini tercantum dalam kitab al-Ghun’yah karya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani. Kitab ini sering disandingkan dengan Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, karena keduanya membahas tema serupa: akidah, fikih, dan tasawuf.
Di kalangan pesantren, nama al-Ghazali hampir selalu identik dengan Ihya’, sementara al-Jailani lekat dengan al-Ghun’yah. Keduanya dikenal luas, al-Ghazali dengan keluasan ilmunya sebagai Qutbul Ulum, dan al-Jailani dengan kewaliannya sebagai Qutbul Ghouts.
Meski demikian, Sahabat perlu memahami bahwa keduanya menempuh madzhab yang berbeda. Al-Ghazali mengikuti Asy’ari dalam akidah dan Syafi’i dalam fikih, sedangkan al-Jailani cenderung pada atsari dalam akidah dan Hanbali dalam fikih. Perbedaan inilah yang membuat kitab al-Ghun’yah tidak selalu diajarkan di pesantren yang bermazhab Syafi’i-Asy’ari.
Sebagai penutup, mari kirimkan al-Fatihah untuk beliau berdua dan para ulama arif billah yang telah menerangi jalan keilmuan umat Islam.
Tim Mawar Suara Salira











