SUARA SALIRA | KOTA TASIKMALAYA, JAWA BARAT – Program gizi berhenti di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nagarasari 3, Kota Tasikmalaya. Kabar ini tentu bikin banyak pihak kecewa. Bukan cuma siswa yang kehilangan asupan makanan bergizi, tapi juga relawan, karyawan, sampai petani lokal ikut terdampak.
Peristiwa ini terjadi dan masih berlangsung hingga liputan pada Minggu, 1 Maret 2026. Sudah hampir tiga bulan dapur yang biasa melayani ribuan penerima manfaat itu tak lagi beroperasi.
Program Gizi Berhenti Sejak Januari 2026
Menurut Soni Setiawan, Asisten Lapangan Dapur SPPG Nagarasari 3, operasional dapur terhenti total sejak 8 Januari 2026. Penyebabnya adalah proses peralihan yayasan yang belum rampung.
“Dapur ini melayani 39 sekolah dengan total sekitar 3.000 penerima manfaat, termasuk siswa dan anak-anak B3 (Bawah Tiga Tahun). Sejak 8 Januari lalu, operasional kami terhenti total akibat adanya peralihan yayasan,” ujarnya dengan nada berat.
Angka tersebut tentu bukan jumlah kecil. Ribuan siswa yang sebelumnya rutin mendapat makanan bergizi kini harus mencari alternatif lain. Memang ada upaya penitipan ke dapur lain. Namun, pelaksanaannya belum maksimal dan kerap terkendala teknis.

Dampak Program Gizi Berhenti Makin Meluas
Ketika program gizi berhenti, efeknya terasa ke mana-mana. Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal ekonomi.
Relawan Kehilangan Penghasilan
Banyak relawan menggantungkan penghasilan dari aktivitas dapur ini. Kini, pemasukan mereka nol.
“Ada relawan yang baru kerja di sini, sudah berani ambil cicilan motor, sekarang motornya harus ditarik dealer karena tidak ada penghasilan,” ungkap Soni.
Cerita seperti ini bukan satu dua. Situasi makin berat karena sebagian besar relawan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Petani Lokal Ikut Terdampak
Selain relawan, petani dan supplier bahan pangan juga ikut terpukul. Selama dapur aktif, hasil panen mereka terserap rutin. Sekarang, permintaan mendadak berhenti.
Akibatnya, stok menumpuk dan pendapatan turun drastis. Rantai ekonomi lokal pun ikut tersendat.
Harapan Agar Program Gizi Kembali Jalan
Dalam kesempatan itu, Soni juga menyampaikan harapan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
“Pak Presiden Prabowo, tolong lihat kami di bawah. Program Bapak sangat bagus, sangat didukung masyarakat karena membantu ekonomi dan gizi anak bangsa. Tapi kenapa hanya karena urusan administratif peralihan yayasan, program ini harus terhenti begitu lama?”

Harapannya, Badan Gizi Nasional bisa segera menuntaskan persoalan administratif. Dengan begitu, dapur SPPG di Kota Tasikmalaya bisa kembali mengepul.
Karena bagi warga kecil, program gizi berhenti bukan sekadar soal kebijakan. Ini soal perut anak-anak, penghasilan relawan, dan harapan petani lokal.
Reporter: Heri Heryanto
Editor: P. Pirmansyah






