Menurutnya, ketika masyarakat diberi akses produksi dan pasar, hasilnya bisa memberikan dampak nyata bagi ekonomi warga.
Model yang sama diharapkan bisa diterapkan juga di Sungai Fatimah.
“Kita memiliki tangan-tangan terampil yang mampu menghasilkan karya luar biasa. Saya ingin suvenir Kalimantan Utara sepenuhnya lahir dari kreativitas masyarakat kita sendiri. Kita berhenti bergantung pada produk tetangga dan mulai menjadikan karya lokal sebagai tuan rumah di tanah sendiri.”
Ia juga kembali menegaskan pentingnya mencintai hasil karya sendiri.
“Kemandirian ekonomi bermula dari keberanian kita mencintai produk sendiri. Saya mendorong seluruh pihak untuk memperkuat rantai produksi kerajinan lokal. Ketika kita memborong karya warga, kita sedang menggerakkan ekonomi desa sekaligus merawat martabat daerah kita agar tidak lagi memandang produk negara lain sebagai pilihan utama.”
Bukan Sekadar Listrik, Tapi Soal Masa Depan Warga
Pertemuan di Binusan malam itu bukan cuma soal membahas kabel dan tiang listrik.
Lebih dari itu, warga berharap ada peluang baru yang bisa membuat kehidupan ekonomi mereka bergerak lebih baik.
Karena ketika listrik tersedia, usaha bisa tumbuh.
Ketika produk lokal hidup, ekonomi desa ikut bergerak.
Dan ketika warga mulai percaya dengan hasil karya sendiri, harapan baru pun mulai menyala dari kampung mereka sendiri.
Editor: P. Pirmansyah










