Menu

Dark Mode

Berita

Tragedi Berdarah Di Sirapit, Cemburu Berujung Petaka

badge-check


					Tragedi Berdarah Di Sirapit, Cemburu Berujung Petaka Perbesar

SUARA SALIRA | KAB. LANGKAT, SUMATERA UTARA – Tragedi Berdarah Di Sirapit jadi perbincangan warga setelah insiden yang terjadi Rabu, 25 Februari 2026 sekitar pukul 18.30 WIB, berujung pada hilangnya satu nyawa.

Peristiwa itu terjadi di Dusun VI Tanjung Selamat B, Desa Serapit, Kecamatan Sirapit, Kabupaten Langkat. Seorang petani berinisial BS (35) meninggal dunia usai terlibat cekcok yang berubah menjadi aksi kekerasan.

Awal Mula Tragedi Berdarah Di Sirapit

Menurut informasi yang dihimpun Suara Salira, kejadian bermula di area kebun kelapa sawit milik warga. Tersangka berinisial GB (39) diduga memergoki korban bersama istrinya.

Awalnya hanya adu mulut. Namun situasi cepat memanas. Emosi tak terbendung, perkelahian pun terjadi. Korban mengalami luka bacok serius hingga akhirnya meninggal dunia.

Warga sekitar menyebut tersangka datang membawa parang. Hal inilah yang kini jadi perhatian penyidik.

“Kalau memang kebetulan membawa parang karena dari kebun, itu satu hal. Tapi kalau ada niat lain, itu berbeda lagi,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

Polisi Selidiki Unsur Perencanaan

Setelah menerima laporan, Kapolsek Kuala dan tim langsung bergerak ke lokasi. Korban sempat dibawa ke fasilitas kesehatan sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara di Medan untuk proses autopsi.

Hasil autopsi akan menjadi kunci. Dari sana, penyidik bisa menentukan apakah kasus ini murni penganiayaan yang berujung maut atau ada unsur lain yang lebih berat.

Saat ini, tersangka sudah diamankan di Mapolsek Kuala. Polisi juga menyita sebilah parang dan dua unit telepon seluler sebagai barang bukti. Pemeriksaan masih terus berjalan.

Dampaknya Ke Warga

Tragedi Berdarah Di Sirapit jelas meninggalkan duka dan trauma. Warga mengaku tidak menyangka konflik pribadi bisa berakhir sejauh ini.

“Ini jadi pelajaran besar. Masalah rumah tangga jangan diselesaikan dengan emosi,” ujar seorang warga lainnya.

Aparat desa pun mulai melakukan pendekatan persuasif agar situasi tetap kondusif. Semua berharap tidak ada gesekan lanjutan.

Peristiwa ini jadi pengingat. Emosi yang tidak terkendali bisa membawa konsekuensi panjang, bukan hanya secara hukum, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Suara Salira akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan menghadirkan informasi terbarunya untuk Anda.

Reporter: Andrian
Editor: P. Pirmansyah

Read More

Bupati Ciamis Deklarasi ODF, ASN Diminta Fokus Melayani

16 April 2026 - 07:18 WIB

Dandim 0612 Hadir di Pelepasan Jemaah Haji Tasikmalaya 2026

16 April 2026 - 05:09 WIB

Bupati Ciamis Ikut Musrenbang Jabar 2027 di Bandung

15 April 2026 - 11:42 WIB

Kecamatan Sobang Gelar LPPDes 2025, Desa Makin Transparan

14 April 2026 - 23:53 WIB

Pemasangan FO PT Wahana Tanpa APD Di Grand Metro Indihiang Tuai Kritik

14 April 2026 - 03:29 WIB

Trending on Berita