“Kalau belanja makan minum itu wajar, tapi kalau nilainya besar, dilakukan berulang, dan terkonsentrasi dalam satu bulan, tentu publik berhak bertanya, sebenarnya untuk apa dan sejauh mana manfaatnya bagi layanan kesehatan,” ujar salah satu pemerhati kebijakan publik.
Hingga berita ini disusun berdasarkan hasil liputan pada Januari 2025, pihak Puskesmas Cengal telah dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat. Namun, sampai saat ini belum ada penjelasan resmi terkait rincian kegiatan, jumlah peserta, maupun hasil dari belanja tersebut.
Sahabat berharap, pihak Inspektorat Daerah, Badan Pemeriksa Keuangan, hingga aparat penegak hukum dapat turun tangan melakukan audit dan penelusuran lebih lanjut. Tujuannya agar anggaran kesehatan benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan sekadar habis di belanja konsumtif.
Kontributor/Wartawan: Meifriandie






