SUARA SALIRA | KAB. OKI – Sahabat, pengelolaan anggaran di Puskesmas Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tahun anggaran 2025 tengah ramai jadi perbincangan publik. Sejumlah data pengadaan menunjukkan adanya belanja yang dilakukan berulang, terutama pada pos makanan dan minuman, sehingga memunculkan tanda tanya soal efektivitas penggunaan anggaran kesehatan.
Dari data yang dihimpun, sepanjang Januari 2025 tercatat sedikitnya ada 17 paket pengadaan langsung yang direalisasikan oleh Puskesmas Cengal. Mayoritas pengadaan tersebut berkaitan dengan belanja konsumsi, baik untuk kebutuhan rapat maupun kegiatan pelayanan urusan kesehatan.
Nilai anggarannya pun tidak sedikit. Untuk satu jenis belanja saja, nilainya tercatat mencapai Rp147.060.000. Selain itu, terdapat dua paket lainnya dengan nilai masing-masing Rp55.440.000 dan Rp54.516.000. Bahkan, belanja makanan dan minuman rapat senilai Rp36.960.000 tercatat muncul dua kali dalam bulan yang sama, sehingga memunculkan pertanyaan terkait frekuensi kegiatan yang dilaksanakan.
Tak hanya soal konsumsi, Sahabat, belanja modal peralatan dan mesin Badan Layanan Umum Daerah atau BLUD juga tercatat cukup besar. Anggaran senilai Rp200.000.000 direalisasikan melalui mekanisme e-purchasing dan tercatat pada Desember 2025.
Sejumlah pemerhati anggaran daerah menilai, pola belanja konsumsi yang cukup dominan dan dilakukan berulang dalam waktu singkat patut mendapat perhatian. Apalagi, hampir seluruh pengadaan menggunakan metode pengadaan langsung yang seharusnya mengedepankan efisiensi dan transparansi.
Menurut mereka, penting dilakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan belanja tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan, memiliki output yang jelas, serta tidak sekadar formalitas administrasi.
“Kalau belanja makan minum itu wajar, tapi kalau nilainya besar, dilakukan berulang, dan terkonsentrasi dalam satu bulan, tentu publik berhak bertanya, sebenarnya untuk apa dan sejauh mana manfaatnya bagi layanan kesehatan,” ujar salah satu pemerhati kebijakan publik.
Hingga berita ini disusun berdasarkan hasil liputan pada Januari 2025, pihak Puskesmas Cengal telah dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat. Namun, sampai saat ini belum ada penjelasan resmi terkait rincian kegiatan, jumlah peserta, maupun hasil dari belanja tersebut.
Sahabat berharap, pihak Inspektorat Daerah, Badan Pemeriksa Keuangan, hingga aparat penegak hukum dapat turun tangan melakukan audit dan penelusuran lebih lanjut. Tujuannya agar anggaran kesehatan benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan sekadar habis di belanja konsumtif.
Kontributor/Wartawan: Meifriandie




