SUARA SALIRA | RELIGI & RENUNGAN – Dalam riwayat sahih dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda:
“Akan tiba masanya ketika harta seorang muslim yang paling baik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya, ia lari dari berbagai fitnah.” (H.R. Bukhari)
Hadis ini menggambarkan suatu fase dalam kehidupan manusia, khususnya umat Islam, ketika dunia diliputi fitnah dan kegaduhan sosial. Di tengah kekacauan moral dan pertentangan sesama, Rasulullah SAW memberikan isyarat bahwa ketenangan dan keselamatan bisa ditemukan melalui kehidupan yang sederhana — salah satunya dengan menggembala domba di padang rumput.
Beternak domba bukan hanya aktivitas ekonomi. Ia merupakan simbol ketenangan, kemandirian, dan keterhubungan manusia dengan alam. Seseorang yang menggembala di padang rumput dan pegunungan akan terbiasa dengan kesunyian yang menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang sering kali menjerumuskan manusia ke dalam perselisihan dan keserakahan.
Selain itu, menggembala melatih kesabaran dan tanggung jawab. Seekor domba memerlukan perhatian dan kasih sayang. Penggembala harus memahami ritme alam, menjaga keseimbangan antara padang rumput dan hewan ternaknya, serta senantiasa bersyukur atas nikmat hujan dan tumbuhan yang tumbuh darinya. Nilai-nilai ini merupakan refleksi spiritual yang dalam — mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan ciptaan Allah SWT.
Rasulullah SAW sendiri pernah menjadi penggembala domba pada masa muda beliau. Profesi tersebut membentuk karakter yang kuat, penuh empati, dan rendah hati. Dalam konteks modern, pesan hadis ini tidak semata mengajak umat untuk menjadi peternak secara harfiah, melainkan untuk mengadopsi semangat kesederhanaan dan menjauh dari fitnah dunia, baik dalam bentuk kebohongan, konflik sosial, maupun godaan materialisme.











