SUARA SALIRA
DUKUNG TERUS SUARA SALIRA, DUKUNGAN SAHABAT, SEMANGAT BAGI KAMI. KLIK SAWERIA.CO/SUARASALIRA ---- SUARA SALIRA | 100 PERSEN NOSTALGIA | SIARAN RADIO INTERNET 24 JAM.

Gerakan Ayah Ambil Rapor di Ciamis Masih Tersendat, Nafkah Jadi Alasan

SUARA SALIRA | KAB. CIAMIS – Program “Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah” yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Ciamis ternyata belum sepenuhnya berjalan mulus. Hal itu terlihat saat pembagian rapor semester ganjil di MTsN 9 Ciamis, Kamis, 18 Desember 2025.

Di hari pembagian rapor tersebut, suasana sekolah justru lebih banyak dipenuhi para ibu. Dari pantauan di lapangan, hampir semua kursi wali murid diisi oleh ibu-ibu. Kehadiran ayah masih sangat sedikit, padahal gerakan ini bertujuan agar ayah lebih terlibat langsung dalam pendidikan anak.

Pemerintah daerah sendiri mendorong gerakan ini sebagai salah satu upaya mengurangi fenomena fatherless, atau kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak, yang angkanya di Jawa Barat masih cukup tinggi.

Namun di lapangan, persoalannya tidak sesederhana datang atau tidak datang ke sekolah. Banyak ayah yang harus tetap bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga, terutama mereka yang bekerja di sektor informal dan bergantung pada penghasilan harian.

Ujang Sumantri, wali murid kelas 7A, mengaku sebenarnya ingin hadir mengambil rapor anaknya. Namun sebagai buruh harian lepas, ia harus menghadapi pilihan yang tidak mudah.

“Kalau saya tidak kerja hari ini, ya tidak ada pemasukan. Mau datang ke sekolah itu niatnya ada, tapi kebutuhan hidup juga tidak bisa ditinggal,” kata Ujang saat ditemui di sela kegiatan sekolah.

Meski Surat Edaran Bupati menyebutkan adanya dispensasi bagi ayah yang bekerja di instansi tertentu, kebijakan tersebut dinilai belum menyentuh pekerja serabutan. Bagi mereka, satu hari tidak bekerja bisa berdampak langsung pada kebutuhan rumah tangga.

Hal senada juga disampaikan sejumlah ibu wali murid. Mereka mengatakan suaminya tidak bisa hadir karena sedang bekerja di luar kota, di sawah, atau di pekerjaan lain yang sulit ditinggalkan.

Padahal, tujuan dari gerakan ini cukup baik, mulai dari mempererat hubungan ayah dan anak, meningkatkan semangat belajar siswa, hingga membangun komunikasi langsung antara ayah dan pihak sekolah.

Kondisi di MTsN 9 Ciamis ini menjadi gambaran bahwa kebijakan sosial masih perlu disesuaikan dengan realita ekonomi masyarakat. Tanpa solusi yang lebih fleksibel, gerakan ini dikhawatirkan hanya bisa dijalankan oleh ayah yang bekerja di sektor formal.

Meski begitu, kegiatan pembagian rapor tetap berjalan dengan lancar dan tertib. Hanya saja, kehadiran ayah seperti yang diharapkan pemerintah daerah masih belum terlihat secara maksimal.

Kontributor/Wartawan: Heri Heryanto