SUARA SALIRA
DUKUNG TERUS SUARA SALIRA, DUKUNGAN SAHABAT, SEMANGAT BAGI KAMI. KLIK SAWERIA.CO/SUARASALIRA ---- SUARA SALIRA | 100 PERSEN NOSTALGIA | SIARAN RADIO INTERNET 24 JAM.
BERITA  

Wahyu Sang Dermawan: Ketulusan di Balik Tindakan Tanpa Pamrih

SUARA SALIRA | Kabupaten Ciamis, Jawa Barat – Di tengah arus kehidupan yang kian individualistis, masih terdapat pribadi-pribadi istimewa yang menghidupkan makna kemanusiaan melalui tindakan nyata. Salah satu sosok tersebut adalah Wahyu, pemilik usaha kuliner Durian Kujang yang berasal dari Kampung Cantigi, Desa Kujang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. Pada Senin, 9 Juni 2025, Wahyu kembali menunjukkan kepekaannya terhadap sesama dengan memberikan bantuan secara tulus tanpa mengharap imbalan ataupun kepentingan pribadi.

Sejak pagi hari, Wahyu telah meluangkan waktunya untuk membantu Mak Darsih, seorang warga lanjut usia dari kampung yang sama, yang sedang mengalami gangguan kesehatan. Dengan inisiatif pribadi, Wahyu mengantar Mak Darsih ke fasilitas kesehatan terdekat agar segera mendapatkan penanganan medis. Dalam keterangannya kepada media, Wahyu menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan ditanggung olehnya secara pribadi. Ia juga menyayangkan belum adanya perhatian dari pihak pemerintah desa terhadap kondisi Mak Darsih tersebut.

Tak hanya berhenti di sana, di hari yang sama, kabar mengenai seorang perempuan yang mengalami kecelakaan di tangga di Kampung Tugu, Desa Sukasenang, Kecamatan Sindangkasih, turut menyentuh nurani Wahyu. Korban, yang merupakan istri dari Didin, sedang menjalani perawatan tradisional setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit. Mendengar kabar tersebut, Wahyu segera melakukan kunjungan ke rumah mereka sambil membawa bantuan berupa beras seberat 25 kilogram dan sejumlah uang tunai.

Apa yang dilakukan Wahyu mencerminkan ketulusan hati yang langka. Aksinya tidak dilandasi oleh relasi kekeluargaan, melainkan oleh kesadaran kemanusiaan. Sosoknya menjadi cerminan nilai-nilai sosial yang luhur, yang seyogianya menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Ketika banyak orang memilih untuk menunggu atau sekadar berkomentar, Wahyu memilih untuk bergerak dan memberi makna bagi orang lain melalui tindakannya.

Semoga semakin banyak masyarakat yang mengikuti jejak Wahyu—berbuat bukan karena diminta, tetapi karena merasa terpanggil untuk hadir di tengah penderitaan orang lain. Karena pada akhirnya, kemanusiaan tak mengenal batas darah atau kepentingan; ia hidup dalam hati orang-orang yang peduli.

Laporan oleh: Heri Heryanto